Bencana

Rp 120.000
SINOPSIS

Harris, Marshal dan Darwin serta dua perempuan Surtina dan Mashliha, mereka lima sekawan sejak SD. Rumah mereka berdekatan pada sebuah kampung yang damai. Sejak kecil mereka suka bermain ke hutan di belakang kampung mereka. Mengambil berbagai buah-buahan dengan gratis. Ada durian, manggis, langsat, kapundung, jantiran, malaka, jambu monyet, cempedak, nangka, rukam dan banyak jenis buah lainnya.
Ketika SMP, Harris dan Marshal minimal sekali seminggu, mereka ke pinggiran hutan lebat, menungu suara Aum Harimau pada saat senja. Jika harimau sudah mengaum, dengan suaranya yang sangat memukau, semua binatang diam dan suasana menjadi senyap dan sepi. Tak berapa lama senja bergulir menjadi malam. Marshal mengatakan, Harimau memanggil malam.
Ketika SMP itu pula, Harris dan Marshal mendengar suara gemuruh di hutan dan mendekatinya. Berdua mereka menyaksikan mesin pemotong. Keduanya terkagum-kagum. Pohon besar yang menurut pengetua kampung banyak hantunya, mereka potong dengan mudah. Nereka berterima kasih, boleh mengambil cabang, dahan dan ranting untuk jadi kayu api. Penduduk kampung pun banyak mengambil kayu api. Perusahaan hanya butuh pohon kayu yang sangat besar.
Taman SMA Harris kuliah kemudian bekerja di kantor akuntan publik. Ketika mahasisawa dia bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasionalis dan dikader sampai tingkat kaderisasi tertinggi. Haris ikut pula aktif dengan kelompok lingkungan hidup. Barulah Harris sadar, kalau kampungnya dalam bahaya, karena hutan mereka dibabat habis oleh pengusaha.
Masa libur semester Harris pulang kampung dan mengumpulkan pemuda untuk melawan penebangan kayu. Penduduk desa justru menganggap Harris menjadi lawan, karena penebang kayu itu memberi mereka kayu gratis. Penebang kayu juga membawa pengetua dan pemuka agama untuk wisata ke Danau Toba. Nginap dan makan di hotel mewah, mendapat baju batik yang indah pula.
Sejauh 66 kilometer menuju kampungnya, Harris harus berjalan kaki empat hari empat malam, melalui bukit terjal dan lembah curam. Jalanan tertimbun tanah longsog. Beberapa kali bencana harus dilalui bagi siapa saja yang ingin menjenguk bencana, kecuali naik helikopter.
Harris akhirnya menikah di halaman gereja Pentakosta dengan Surtina, disaksikan oleh Presiden saat Ijab Qabul. Disaksikan oleh presiden, bukan sebagai saksi. Permusuhan kakek Harris dan Surtina yang sangat bebuyutan sekiann lama, Sirna.

Categories:

Deskripsi

Penulis:Idris Pasaribu
Judul buku:Bencana
ISBN:978-634-04-9449-5
Harga:Rp 120.000
Jumlah halaman:194 halaman
Butuh bantuan?